Jumat, 25 Maret 2011

PANDANGAN DAN HAKIKAT SEORANG SEKRETARIS

Pada waktu lampau profesi sebagai seorang sekretaris sering dianggap sebelah mata dan terkadang menghasilkan omongan miring di dalam maupun luar lingkungan kantor.

Hal ini mungkin terpengaruh dari gambaran sosok sekretaris tersebut yang identik dengan perempuan, rok mini dan pemikiran picik akan adanya hubungan intim antar si sekretaris dengan pemimpinnya. Benarkah itu?

Pendapat kurang sedap mengenai eksistensi sekretaris dalam sebuah organisasi seperti itu, sudah sepantasnya dihilangkan. Karena berbagai perkembangan menunjukkan, pandangan positif terhadap seorang sekretaris harus sudah mulai diterapkan. Eksistensi dan fungsi sekretaris tidaklah sekadar “pembantu atau penggembira atasan”. Lebih jauh lagi, sudah jadi merupakan bagian penting dan tak terpisahkan. Ibarat dalam sebuah mesin, sekretaris merupakan item penting yang keberadaan dan kinerjanya akan berpengaruh terhadap kinerja mesin itu secara keseluruhan.

Selain itu profesi ini tidaklah semata digeluti oleh gender wanita, tak sedikit profesi ini dipegang pula oleh gender pria. Terlebih lagi seiring dengan semakin berkembangnya sektor usaha dibidang apapun, profesi sebagai sekretaris adalah profesi yang dapat diperhitungkan dan memiliki prospek karir yang cerah bahkan peranannya tidak lagi dapat dianggap sebelah mata. Dengan banyak bermunculannya para sekretaris pria yang biasanya memiliki pekerjaan lebih berat ketimbang wanita, jelas hal ini membuktikan bahwa menjadi sekretaris bukanlah hal yang mudah dan mempunyai peran yang sangat penting. Sehingga dalam melaksanakan tugas tersebut, seorang sekretaris bukan hanya berhubungan dengan pimpinannya saja melainkan juga dengan klien perusahaan sehingga tak heran bila terkadang pekerjaan mereka terlihat serabutan.

Sebagai suatu profesi, sekretaris memiliki masa depan cerah. Karena meski perkembangan teknologi tak bisa dibendung, alat-alat perkantoran canggih terus diperkenalkan, “sentuhan” tangan trampil dan buah pikiran seorang sekretaris tetap diperlukan.


Definisi Sekretaris

Sekretaris berasal dari bahasa Inggris secret dan secretum dari bahasa Latin yang artinya rahasia. Berasal pula dari kata secretaries/secretarium yang berarti seseorang yang diberi kepercayaan memegang rahasia.


Beberapa defenisi sekretaris lainnya;

1. ”Secretary is an person employed to keep record, take care coresspondence and other writing task, etc, for organization or individual”. Webster New Dicitonary of American Language College.

2. “Person employed by another to assit him in coresspondence, literary work getting information and other confidential matters”. H.W.Flower & F.G. Flower

3. “Secretary is a personal office assitance to designed supervisor who has close and direct working relationship with supervisor. Ruth J.Anderson


Dari beberapa definisi jelaslah bahwa sekretaris bukan sekadar pembantu atasan semata, tetapi seseorang dengan kualifikasi tugas, pekerjaan, dan tanggung jawab yang sangat tinggi. Seorang pimpinan/atasan memiliki tugas dan tanggung jawab besar dalam memimpin dan mengelola perusahaan/organisasi. Mulai dari mengurus appointments, soal administrasi, mengatur rapat sampai urusan korespondensi. Dan tugas-tugasnya ini akan bisa lebih maksimal jika dibantu dengan keberadaan seorang sekretaris.


Fungsi sekretaris

“A Secretary assists an executive in carrying out the detail o his work. The executive depend on upon his secretary primarily for assistance in handling the details of communications such as telephoning, telegraphing, filling and duplicating. ‘Beamer, Hanna, Popham (Effective Secretarial Practice).


Profesionalitas Seorang Sekretaris

Selama ini, orang cenderung mendeskripsikan seorang sekretaris sebagai sosok wanita berpenampilan cantik dan menarik. Anggapan ini jelas salah besar. Karena seorang sekretaris tidak melulu harus seorang wanita. Dan kalaupun ia wanita, tidak selalu harus cantik dan menarik.


Secara professional, ada sejumlah syarat seorang sekretaris yang baik.

- Personality; Di antaranya sabar, tekun, disiplin, tidak cepat menyerah, berpenampilan baik, jujur, loyal, pandai berbicara, sopan dan bisa menjaga image perusahannya.

- General Knowledge; Memiliki kemampuan memadai terhadap segala sesuatu perubahan dan perkembangan yang terjadi, terutama yang berkaitan dengan aktivitas organisasi.

- Special knowledge; Memiliki pengetahuan yang berkaitan khusus dengan posisinya sebagai seorang sekretaris.

- Skill and technic; di antaranya meliputi kemampuan mengetik, korespondensi, stenografi (sekarang bukan syarat mutlak) dan kearsipan.

- Practice; kemampuan melaksanakan tugas sehari-hari seperti menerima telepon, menerima tamu, menyiapkan rapat, membuat agenda pimpinan dll


Jika melihat dari defenisi, fungsi dan profesionalitas seorang sekretaris diatas maka setiap orang bisa saja memiliki persepsi yang berbeda berdasarkan pengindraannya dan juga masing-masing orang punya pilihan bagaimana ia memilih dan menciptakan persepsi atas dirinya terhadap lingkungannya.

Disinilah tuntutan profesionalisme sekretaris dibutuhkan bagaimana dia harus memilih “mau bersikap bagaimana” menggunakan bahasa lisan dan bahasa tubuh sesuai dengan aturan dan norma-norma yang sewajarnya dan diterima oleh masyarakat untuk menghindari persepsi-persepsi negative yang berlebihan dan menciptakan persepsi positif dibenak lingkungan terhadap dirinya dan profesinya, agar tidak menimbulkan perasaan-perasaan yang pada akhirnya perilaku berubah menjadi tidak layak dan merusak keadaan. tentu saja dengan satu konsep yaitu “HOW TO BE A PROFESIONAL SECRETARY” sehingga citra sebagai seorang Sekretaris professional akan tetap tercermin

Hingga pada akhirnya Sekretaris secara tidak langsung akan memberikan kontribusi yang besar terhadap kemajuan perusahaan dan memberikan image yang baik terhadap lingkungan sekitarnya di luar perusahaan. Kuncinya adalah bersikap sesuai norma yang bisa diterima masyarakat, menciptakan suasana kantor yang kondusif, bertindak sesuai dengan kemampuan, keahlian, inisiatif dan kreatifitas yang dimiliki.


Selasa, 15 Maret 2011

Cintai Pekerjaan dengan Mengenali Kepribadian

KOMPAS.com - Setiap individu punya empat tipe kepribadian dalam dirinya. Menyerap teori dasar kepribadian dari psikolog Perancis yang dituangkan dalam buku Personality Plus, presenter Erwin Parengkuan dalam buku Click yang ditulisnya, menerjemahkan empat tipe kepribadian. Menurutnya empat tipe tersebut di antaranya si kuat, si damai, si gesit, dan si rinci. Anda bisa memiliki lebih dari satu tipe, karena memang setiap individu tidak perlu terpaku pada satu kepribadian saja. Lantas apa hubungannya tipe kepribadian dengan menyintai pekerjaan?

Dengan mengenali diri atau tipe kepribadian, menurutnya, kita lebih mengetahui siapa diri kita. Coba sebutkan saja tiga kekuatan atau kelebihan dalam diri, maka Anda akan mulai menemukan termasuk tipe mana kepribadian Anda. Dengan mengenali kepribadian, Anda bisa lebih menyintai pekerjaan karena Anda bisa menyocokkan pekerjaan dengan kepribadian.
"Dengan mengenali tipe kepribadian, Anda bisa menemukan pekerjaan yang sesuai. Seseorang yang memiliki tipe si rinci dan si gesit misalnya, cocok untuk menjadi desainer. Si gesit jago jika jualan sehingga cocok menjadi marketing. Si kuat yang cenderung lempeng jangan dijadikan humas, meskipun sebenarnya bisa saja jika mau dikembangkan potensinya," jelas Erwin, dalam talkshow bertema "Do You Love Your Job" yang diadakan oleh Dove di Atrium Senayan City, Sabtu (26/2/2011) lalu.

Mengenali diri memang menjadi urusan penting yang berdampak luas. Dengan memahami kepribadian, Anda bisa mengarahkan diri sendiri dalam memilih atau menjalani karier dan pekerjaan saat ini. Tentunya Anda akan lebih menyintai pekerjaan atau karier jika didasari oleh minat dan kesesuaian dengan kepribadian Anda. Jangan heran jika Anda merasa bosan dan tak berkembang dalam suatu pekerjaan, lantaran apa yang Anda kerjakan tak sejalan dengan karakter diri. Meski bukan berarti Anda harus meninggalkan pekerjaan karena tak sesuai dengan kepribadian.

"Setelah mengetahui tipe kepribadian, yang perlu dilakukan kemudian adalah memotivasi diri untuk mengembangkan potensi. Pilihannya adalah mau atau tidak mau, itu saja," kata Erwin kepada Kompas Female.

Ia pun menyontohkan, meski si rinci yang cenderung lempeng tak cocok menjadi humas, bukan berarti dia tak bisa mengembangkan dirinya agar lebih bisa bicara di depan publik seperti di gesit. Si damai yang cenderung santai menjalani hidupnya, juga harus meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melakukan hal lain yang berbeda dan siap menjawab tantangan baru dalam hidupnya. Si kuat yang lempeng juga bisa beradaptasi dengan lingkungannya agar lebih fleksibel.

"Karenanya tipe kepribadian yang ditinjau dari sisi psikologis ini juga perlu dibantu dengan cara berkomunikasi. Komunikasi dengan kepribadian itu seperti perkawinan. Dengan mengetahui cara berkomunikasi, seseorang bisa mengembangkan kepribadiannya, karena ia bisa mengungkapkan apa yang diinginkannya. Kemampuan komunikasi penting dimiliki supaya seseorang bisa tahu bagaimana menyeimbangkan dirinya, yakni kepribadian dengan pekerjaannya," tandas ayah empat anak ini.

Bekerja Atau Berkarya?

KOMPAS.com — Saat diminta bantuan untuk lembur, beberapa karyawan di suatu bagian secara spontan nyeletuk: “Yah.., tergantung imbalannya." Mendengar hal ini, atasan pun berkomentar agar orang yang menolak lembur mengundurkan diri saja karena melihat mereka sungguh-sungguh tidak memikirkan kepentingan perusahaan dan hanya memikirkan kepentingan diri pribadi.

Meskipun loyalitas pada perusahaan oleh beberapa pihak dianggap sudah kuno, hitung-hitungan pekerjaan tentu sudah lebih ketinggalan zaman lagi. Bila kontribusi yang bersedia kita berikan selalu kita hitung dengan apa yang diberikan perusahaan, bukankah kita sendiri yang rugi karena tidak bisa secara utuh menghasilkan karya terbaik kita? Apakah kita bisa happy bila bekerja dengan separuh hati saja? Bayangkan juga apa jadinya bila para prajurit tidak sepenuh hati membela negara karena hitung-hitungan dengan imbalan yang diterima dari negara.

Seorang teman yang dikenal sukses dalam menerapkan perbaikan sistem dan pencapaian target baru menyadari bahwa sudah tiga tahun terakhir semua usulan perbaikannya tidak mendapat persetujuan. Ia pun jadi kehilangan tujuan dalam pekerjaannya dan mulai mempertanyakan makna bekerjanya. Di satu sisi, ia tahu bahwa ia sudah memiliki posisi baik dan gaji yang lumayan sehingga tidak mudah hengkang begitu saja ke tempat lain. Gairahnya untuk memahami manajemen dan menyamakan derap sudah hilang. “Saya kerja semata untuk hidup”, begitu komentarnya.

Kita lihat hilangnya gairah bekerja bisa terjadi di level mana pun, mulai dari pelaksana sampai manajerial. Pertanyaan bagi perusahaan, bisakah kita mengandalkan karyawan yang hanya datang bekerja dengan mental dan sikap kerja tanpa gairah seperti ini? Pertanyaan bagi individunya, apakah kita ingin meneruskan hidup tanpa gairah seperti ini?

Ciptakan dan rasakan magis
Pencipta logo "I (heart) NY", Milton Glaser, pernah mengatakan bahwa bekerja hanya benar-benar disebut kerja bila kita bisa berada di tingkat yang lebih tinggi daripada tujuan obyektifnya. Seorang manajer HRD berkata: “Saya ingin zero absenteeism." Berbagai upaya ia lakukan untuk mencapai targetnya tersebut, mulai dari sosialisasi peraturan juga melakukan pendekatan persuasi. Ia sama sekali tidak tergantung atasan maupun manajemen perusahaan karena sudah menjadikan sasaran tugas sebagai obsesi pribadinya. Dengan rasa seperti itu, ia merasa bahwa dialah yang menjadi majikan bagi dirinya sendiri. Pekerjaan akan dirasakan sebagai karyanya, bukan sekadar tugas. Kita lihat bahwa bila kita meletakkan kerja lebih tinggi dari tujuan obyektifnya, kita bisa memiliki spirit, energi, dan merasakan hal-hal misterius dan magis dari tugas tersebut.

Sebetulnya terkadang kita tidak bisa secara kasatmata membedakan seorang frontliner yang bekerja dengan passion sampai tingkat “artistik” dengan temannya yang sekadar melaksanakan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Namun, kita bisa melihat dampak dari hasil kerjanya berbeda. Individunya sendiri pun akan merasakan gairah yang berbeda karena penemuan misteri, solusi, dan tantangan selalu ada dalam tugasnya. Ini membuat pekerjaan menjadi hidup dan eksperimental.

Bagaimana dengan pegawai negeri yang terkenal cenderung digaji lebih kecil dari pegawai swasta? Kita lihat seorang petugas pembuat paspor sekalipun ada yang begitu terampil menguasai pekerjaannya dan begitu menikmati pekerjaannya, seolah tidak peduli pada imbalan yang ia terima. Individu seperti ini sudah mengintegrasikan emosi dan passion dengan tugasnya. Sasaran kerjanya sangat personal dan bergereget. Kita lihat, apa pun pekerjaan dan jabatan kita, kita bisa menyusun standar pribadi yang bahkan lebih tinggi dari tuntutan jabatan atau perusahaan. Inilah yang bisa membuat kita merasakan magis dan bekerja dengan tingkatan yang lebih tinggi.

Gaya kerja relawan
Suatu kali, saya mendapat kandidat yang istimewa. Saat wawancara, ia bertanya, apakah ia boleh memberi usulan perbaikan dan berpartisipasi dalam acara brainstorming di perusahaan? Ia juga menggali apakah kalau ada kesempatan ia diperbolehkan menentukan prioritasnya sendiri dan sasaran-sasaran kecil sejalan dengan sasaran yang ditetapkan perusahaan. Alangkah mudahnya perusahaan berkembang bila memiliki kualitas karyawan yang memilih cara untuk mencapai kepuasan kerjanya dengan rasa berkarya seperti ini. Guru manajemen, Peter Drucker, pun mengatakan, kita perlu memilih karyawan yang bersikap seperti relawan, mempunyai misi pribadi yang jelas, serta bisa memberikan alasan yang kuat mengapa mereka bergabung di organisasi. Karyawan mesti mengenal dan menyukai game-nya!

Kita bisa belajar dari Google yang senantiasa mengupayakan rasa bekerja di perusahaan kecil pada karyawannya sehingga apa pun upaya yang dilakukan karyawan terdeteksi dan diapresiasi agar karyawan tetap kreatif dan berusaha untuk berkarya terus. Pekerjaan tidak lagi kaku dan berkesan formal, namun lebih kental bergaya mahasiswa atau relawan. Dengan gaya kerja seperti ini, hubungan satu sama lain juga seperti hubungan dengan teman main. “Work and play” sudah tidak terpisahkan lagi. Bukannya tidak ada persaingan, tetapi persaingan lebih banyak pada keinginan untuk melebihi teman kerja dalam keunggulan karya dan buah pikiran masing-masing.

Hal yang sering dilupakan pemberi kerja adalah bahwa setiap individu mempunyai potensi untuk menjadi idealis. Dengan memberi kesempatan agar para karyawan berkarya sesuai dengan hal-hal yang dia anggap benar, mereka akan tumbuh lebih percaya diri dan berani mengembangkan idealisme profesinya. Tanpa perlu mengadakan quality control secara sengaja dan terpisah, semua karyawan sudah memperbaiki, bahkan bersikap kritis terhadap kualitas kerja. “Being a part of something that matters and working on products in which you can believe is remarkably fulfilling. Life is beautiful.” Ini komentar CEO Google.

(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)

Mengapa Orang Gemar Menunda Pekerjaan?

KOMPAS.com — Setiap orang cenderung menunda pekerjaan, apa pun alasannya. Akan tetapi, bila menunda mulai membuat cemas dan lingkungan kerja bereaksi negatif, hati hati! Bisa jadi ini saatnya Anda mengintrospeksi diri.

Ya, kadang kala kita tak sadar sedang menimbun permasalahan pekerjaan. Ketika pekerjaan itu kian menumpuk, bukan semakin mudah diselesaikan, justru semakin banyak, semakin malas untuk menyelesaikan. Ujung-ujungnya, konsentrasi semakin buyar dan tak satu pun pekerjaan selesai dengan baik.

Jika Anda menemui masalah seperti di atas, Himawan Wijanarko, General Manager Strategic Services The Jakarta Consulting Group, menyarankan untuk berstrategi mengurai sindrom prokrastinasi yang melilit. Berikut kiatnya!

Psikologis atau fisiologis
Sebenarnya ada dua permasalahan pokok seseorang menunda pekerjaan, yaitu masalah psikologis dan masalah fisiologis.

Masalah psikologi biasanya berkisar dari kurang percaya diri akibat merasa diremehkan oleh perusahaan atau lingkungan pekerjaan. Bisa juga disebabkan masalah penundaan pekerjaan yang pernah terjadi sebelumnya, yang kemudian menyebabkan lingkungan memberikan tanggapan negatif.

Masalah fisiologis biasanya dialami orang dengan hiperaktivitas, hipertensi, dan kelainan hormonal, yang mau tak mau memengaruhi proses berpikir dan konsentrasi. Rasa cemas pun meningkat seiring tuntutan pekerjaan sehingga fokus tidak optimal. Hasil akhirnya bisa ditebak, pekerjaan malah tidak selesai sesuai waktunya.

Jika permasalahan ada pada fisiologis, yang perlu dilakukan adalah manajemen waktu dan stres. Pastikan Anda tidak menumpuk pekerjaan sulit terlalu banyak dengan deadline yang ketat. Juga perbaiki kualitas hidup untuk menurunkan tingkat kecemasan.

* Manajemen diri
Setiap orang memang memiliki kecenderungan menunda pekerjaan. Ini bisa saja disebabkan faktor kurang dalam kemampuan mengatur diri. Orang dengan kecenderungan ini biasanya sulit mengklasifikasikan mana urusan yang penting dan tidak terlalu penting. Akibatnya semua permasalahan tidak diletakkan dalam skala prioritas yang tepat. Mulai dari pengukuran kemampuan menyelesaikan suatu pekerjaan, perhitungan beban pekerjaan, dan prioritas deadline pekerjaan itu sendiri.

Kebanyakan orang yang terjebak dalam penundaan pekerjaan disebabkan oleh kecenderungan untuk menyelesaikan pekerjaan yang menyenangkan terlebih dahulu, sedangkan yang sulit belakangan. Sebenarnya ada sisi positif dari menyelesaikan pekerjaan yang mudah terlebih dahulu karena jika memaksakan mengerjakan yang sulit justru bisa membuat pekerjaan tidak selesai-selesai. Kendati demikian, jangan lupakan deadline, dan buat jadwal lebih rapi mengenai pengerjaan tugas perusahaan.

Cermin orang lain
Kadang kala kita perlu menjernihkan permasalahan dengan meminta orang lain untuk menjadi cermin. Bukan menirukan apa yang dilakukan orang lain, tetapi meminta orang lain untuk melihat permasalahan diri kita.

Kasus penundaan pekerjaan juga bisa diurai melalui strategi ini. Carilah orang lain yang Anda percaya, misal teman kerja atau pasangan, untuk melihat masalah pekerjaan yang dihadapi. Mintalah orang lain menganalisis pekerjaan yang penting dan tidak penting menurut skala prioritas. Atau mintalah ia menganalisis kesulitan yang sedang dihadapi.

Setelah mendapat gambaran permasalahan, mulai buat daftar jadwal pengerjaan. Akan lebih baik jika orang lain juga bisa menjadi watch dog Anda. Disiplin diri akan bekerja lebih baik ketika Anda merasa mendapat dukungan dari orang lain.

* Manajemen stres
Disadari atau tidak, stres juga bisa mengacaukan akselerasi penyelesaian pekerjaan hingga tak sesuai target. Menurut Himawan, stres pada dasarnya bisa disebabkan empat hal. Pertama, tekanan seperti deadline dan tuntutan kualitas diri. Kedua, frustrasi yang bisa disebabkan oleh hasil yang kurang baik maupun reaksi negatif lingkungan. Ketiga, konflik seperti saat memilah untuk menyelesaikan pekerjaan yang mana lebih dahulu. Keempat, krisis yang bisa disebabkan oleh perubahan yang tiba-tiba.

Ketika menemui kondisi stres, yang perlu dilakukan adalah mengatasi efek psikologisnya. Petakan permasalahan demi menurunkan level stres hingga ke jenjang yang masuk akal. Jika Anda piawai memetakan permasalahan, dengan sendirinya level stres menurun. Level stres yang masuk akal ini justru bisa meningkatkan produktivitas seseorang karena stres sebenarnya juga berperan meningkatkan gairah untuk lebih produktif.

Sesuai tipe Anda
Menyelesaikan permasalahan tugas yang menumpuk juga perlu disesuaikan dengan tipe Anda. Apakah Anda tipe orang yang “maju terus, yang penting hadapi” atau tipe yang butuh refreshing di sela pekerjaan?

Tipe yang pertama umumnya jarang menghadapi masalah tugas yang menumpuk, kecuali Anda memang memiliki masalah menentukan skala prioritas. Tipe yang kedua sebaiknya sedikit memacu diri sendiri untuk membuat target sesuai skala prioritas. Refreshing setelah usai mengerjakan setengah dari beban tugas memang boleh, tetapi pikirkan pula waktu yang tersisa dan kapasitas tubuh serta kemampuan berpikir Anda.

Namun, jika Anda tipe orang yang sering menarik diri, sebaiknya waspada ketika menghadapi permasalahan yang sulit dalam pekerjaan. Jangan hanya diam. Segera cari referensi atau masukan orang lain agar Anda tak merasa “tidak bisa sebelum melakukan”. Ingat, pekerjaan bisa jadi tidak selesai karena permulaan pekerjaan ataupun penyelesaian pekerjaan.

Akhiri Kerja Dengan Elegan

KOMPAS.com - Hampir bisa dipastikan, semua orang masuk kerja dengan awal yang baik. Karena itu, saat mengundurkan diri lakukan dengan baik pula. Itulah yang diungkapkan psikolog Ita D. Asly. "Ada orang-orang yang karena merasa sudah tidak nyaman dengan lingkungan kerja kabur begitu saja. Ini harus dihindari oleh seorang pekerja profesional. Apapun alasannya, bagaimanapun kondisinya, apa yang sudah dimulai dengan baik, harus diakhiri dengan baik. Kalau ada masalah, selesaikan dulu secara profesional," paparnya.

Faktor pemicu
Pasti ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan berhenti dari suatu pekerjaan. Namun, menurut Ita, secara umum ada tiga hal yang menjadi pemicu munculnya hal tersebut, yaitu:

* Kemampuan
Biasanya seseorang memilih bekerja berdasarkan kemampuan dan pengalamannya. Namun jika pekerjaan yang dijalaninya ternyata melebihi kemampuannya, biasanya seseorang akan cenderung tertekan dan stres. Sebaliknya, jika tuntutan pekerjaan jauh di bawah kemampuan, kejenuhan akan datang. Ketidakselarasan antara kemampuan dan tantangan ini dapat membuat seseorang memilih mundur.

* Minat dan aktualisasi diri
Pekerjaan yang dilakukan dengan hati tentu hasilnya maksimal dan dapat dinikmati, bukan hanya dirinya, tapi juga orang lain. Karena itu, dalam bekerja dibutuhkan juga minat dan ketertarikan. Jika dua hal ini tidak ada sama sekali, tentu sulit mencapai hasil sesuai. Selain itu, dalam bekerja orang juga butuh aktualisasi diri. Jadi meskipun lingkungan kerja menyenangkan dan punya kemampuan, jika minat dan kesempatan mengaktualisasikan diri tidak ada, seseorang bisa memutuskan untuk berhenti bekerja.

* Lingkungan kerja
Inilah salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan seseorang dalam bekerja. Lingkungan yang kondusif serta suportif dapat membuat orang nyaman sehingga kemampuan dalam bekerja dapat dikeluarkan secara maksimal. Kecocokan seseorang dengan lingkungan kerja sering menjadi alasan seseorang betah dan loyal pada suatu perusahaan. Lingkungan kerja ini bisa meliputi atasan, rekan kerja, bawahan, atau sistem yang diterapkan perusahaan. Lingkungan kerja yang tidak nyaman dan tidak dapat mengakomodasi kebutuhan akan menjadi alasan seseorang mencari tempat kerja lain. Misalkan atasan kurang mampu berkoordinasi atau perusahaan tidak mampu menghargai karyawan sesuai dengan kemampuannya.

Mempertaruhkan kredibilitas
Bila salah satu dari ketiga hal di atas tidak terpenuhi, tentu wajar ketika seseorang memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Yang menjadi masalah adalah jika alasan-alasan di atas dibumbui dengan konflik-konflik lain yang membuat karyawan ingin buru-buru pergi.

Namun, psikolog yang menjadi senior consultant di Iradat Konsultan ini menegaskan, apapun yang berhubungan dengan dunia kerja menuntut profesionalisme. Tidak hanya dalam hal kompetensi atau kemampuan, tapi juga kematangan bersikap (attitude). Sebagai orang dewasa dan pekerja profesional, kita memang dituntut untuk bisa mengendalikan sikap dan emosi.

"Emosional itu manusiawi. Tetapi perlu diingat juga bahwa masalah pekerjaan tidak boleh diselesaikan dan diputuskan dengan emosional, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari," sarannya.

Keputusan yang diambil secara emosional berisiko merugikan diri sendiri. Contohnya begini: Bos mengatakan sesuatu yang membuat Anda tersinggung dan langsung memutuskan untuk mengundurkan diri. Saat itu, keputusan berhenti lebih dipicu emosi sehingga kemungkinan besar Anda belum memikirkan, apalagi mempersiapkan, langkah selanjutnya. Seringkali juga karyawan kesal dengan peraturan-peraturan baru perusahaan. Sebelum hal itu membuat Anda mundur, pikirkan dulu matang-matang. Jangan sampai membuat keputusan yang akan disesali nantinya.

Selesaikan konflik
Dalam dunia kerja tentu kemungkinan terjadi konflik sangat besar. Bisa jadi, konflik-konflik inilah yang akhirnya membuat seseorang tidak betah dan ingin berhenti dari pekerjaan. Sebelum mengambil keputusan final, cobalah melakukan mediasi dulu. Siapa tahu bisa ditemukan solusi terbaik. Mediasi ini bisa dilakukan oleh orang yang berkonflik langsung ataupun dengan perantara pihak manajemen perusahaan. Dengan adanya mediasi, diharapkan hubungan baik dengan perusahaan tetap terjaga. Siapa tahu suatu saat nanti kita akan berhubungan kembali dengan orang atau perusahaan tersebut.

Jika seseorang sudah terlanjur bersikap emosional, satu-satunya jalan untuk memperbaikinya adalah meminta maaf. Baik pada diri sendiri, kepada pihak yang bermasalah ataupun kepada rekan kerja yang ikut merasakan dampak dari konflik tersebut. Kebesaran hati untuk melakukan hal itu sangat diperlukan, karena jika tidak nama baik dan kredibilitas Anda akan menjadi taruhannya. Lingkungan kerja akan terus mengingat Anda sebagai orang yang emosional.

"Walaupun sulit, cara ini cukup elegan. Intinya, sebagai seseorang yang profesional, akhirilah masa kerja Anda di suatu perusahaan dengan kesan yang 'manis', apapun permasalahan yang telah terjadi. Jangan lupa, ikuti prosedur sebaik mungkin. Profesionalisme tidak hanya perlu diperlihatkan selama bekerja, tapi juga saat kita akan berhenti bekerja," tutupnya.

Kesalahan Umum Saat Mengatur Keuangan

KOMPAS.com — Setiap kali Anda mendapatkan gaji, apa yang Anda lakukan? Segera menyisihkan uang tersebut untuk membayar tagihan? Atau membaginya ke dalam pundi-pundi tabungan lain?

Ternyata, para wanita memiliki kekhawatiran bahwa mereka kurang menyisihkan cukup uang untuk masa depan. Para wanita takut mereka akan kehabisan harta di usia senja nanti. Demikian menurut Lisa Caputo dari Women & Cosebuah situs finansial khusus wanitayang lalu menjelaskan bahwa hal tersebut umum terjadi di antara wanita. “Wanita cenderung hidup lama, membutuhkan lebih banyak perawatan jangka panjang seiring pertambahan usia, harus mengurus keluarga, padahal tak jarang mereka tak memiliki pendapatan sendiri. Kenyataan ini harusnya menyadarkan para wanita akan pentingnya menabung sejak dini, menabung lebih banyak ketika mereka mendapatkan penghasilan lebih. Dan akhirnya, harus bisa merencanakan keuangan menjelang periode tak produktif lagi,” terang Lisa.

Riset menunjukkan bahwa wanita sering menanggung peran yang besar untuk keputusan keuangan, berfungsi sebagai kepala bagian finansial rumah tangga. Wanita tak hanya mengatur pengeluaran sehari-hari, tetapi juga segala hal yang menyangkut keuangan keluarga dan investasi jangka panjang.

Lalu, apa masalahnya? Caputo menyatakan, setidaknya ada dua kesalahan dalam pengaturan keuangan yang kerap dilakukan para wanita. Informasi ini dibutuhkan untuk merefleksi diri dan memahami masalah keuangan agar tak jatuh ke lubang yang sama berulang kali.

1. Tidak mempertahankan perencanaan keuangan.
Kebiasaan para wanita adalah menghabiskan waktu dan energi untuk memulai sebuah perencanaan keuangan, tetapi pada akhirnya mereka tak pernah melihatnya lagi. Umumnya, para wanita berpikir bahwa perencanaan keuangan hanya merupakan aktivitas jangka pendek. Padahal, kesehatan keuangan mirip seperti perkawinan, merupakan suatu perjalanan, bukan suatu tujuan. Diperlukan perawatan dan pemeliharaan keuangan agar bisa terus dalam kondisi baik.

2. Berinvestasi terlalu konservatif.
Dibandingkan pria, rata-rata wanita cenderung berinvestasi secara konservatif. Bahkan lebih banyak yang menyimpan saja uang mereka. Terlalu konservatif malah bisa membuat wanita kehabisan uang di usia lanjutnya. Ini dikarenakan uang tabungan saja tak akan kuat bertahan melawan inflasi yang akan terus terjadi. Melindungi kekuasaan wanita untuk menghamburkan uang sangat penting untuk kita semua, terutama wanita, karena wanita cenderung hidup lebih lama.

Tips untuk menyiapkan perencanaan keuangan:
*Buat keuangan Anda fleksibel.
*Sesuaikan keuangan Anda dengan tujuan hidup.
*Diskusikan keuangan Anda dengan anak dan suami.
*Pantau terus keuangan Anda setiap hari.

Menjaga dan mengurus keuangan Anda mungkin akan menghabiskan banyak waktu dan energi pada awalnya. Namun, begitu Anda sudah membuatnya menjadi kebiasaan untuk mengawasi pemasukan dan pengeluaran, akan jadi lebih mudah untuk mencapai tujuan hidup.

Begini lho, Cara Menyusun Anggaran Keuangan

KOMPAS.com — Riset mengenai kesadaran finansial yang diadakan Citigroup Asia Pasific atau Citi Fin-Q pada 2010 menunjukkan, semakin banyak orang Indonesia yang menyadari pentingnya merencanakan keuangan. Dari 500 responden dengan penghasilan rata-rata Rp 10 juta per bulan, nilai Indonesia adalah 57 dari 100 poin, meningkat dari tahun sebelumnya, 52. Sayangnya, kesadaran yang meningkat ini tak dibarengi dengan implementasi. Hanya 47 persen responden yang mematuhi anggaran bulanan yang dibuatnya, sedangkan 38 persen responden masih dalam tahap berusaha mengikuti anggaran.

Hotman Simbolon, Vice President Customer Care Center Head Citibank, mengatakan, langkah awal agar bisa memiliki kemandiran finansial adalah dengan membuat anggaran. "Diawali dengan budgeting, lalu saving, investing, dan sharing. Budgeting penting untuk membantu Anda mencapai kemandirian finansial," jelas Hotman dalam Citibank Journalist Class di Jakarta, Rabu (2/3/2011) lalu.

Tahapan menyusun anggaran untuk mencapai kemandirian finansial diawali dengan menentukan tujuan finansial; kemudian mengumpulkan informasi keuangan personal; lalu mengurangi pengeluaran; dan terakhir membuat formula dalam penyusunan anggaran. Lebih lanjut, Hotman menjelaskan tahapan budgeting:

1. Menentukan tujuan finansial

Agar bisa mandiri secara finansial, mulailah dengan menentukan tujuan finansial jangka pendek, menengah, dan panjang. Ajukan sejumlah pertanyaan kepada diri sendiri untuk membantu Anda memperjelas tujuan finansial. Apa yang menjadi prioritas utama Anda, apa saja kebutuhan Anda, dan apa yang menjadi keinginan Anda?

2. Mengumpulkan berbagai informasi keuangan pribadi
Tahapan selanjutnya, kumpulkan seluruh data penghasilan dan pengeluaran. Data yang harus Anda kumpulkan di antaranya gaji bagi yang sudah bekerja atau uang saku dari orangtua, tagihan kartu kredit, pembayaran barang yang menjadi kebutuhan utama, dan lainnya.

Kemudian lakukan klasifikasi data menjadi tiga bagian untuk dijadikan landasan membuat anggaran. Bagian pertama, yaitu penghasilan, jumlahkan semua penghasilan dari seluruh sumber pendapatan. Bagian kedua, yaitu pengeluaran, jumlahkan semua pengeluaran tetap seperti cicilan rumah, dan pengeluaran variabel seperti uang bensin, telepon, dan lainnya. Ketiga adalah bagian bottom line, yakni selisih antara pendapatan dan pengeluaran yang akan memberikan ukuran apakah pengeluaran Anda sudah berlebihan.

Lihat bottom line Anda, jika selisihnya positif maka Anda bisa menyisihkan dana lebih untuk menabung atau menaikkan jumlah pembayaran kartu kredit atau utang. Kalau selisihnya negatif, artinya Anda membelanjakan lebih dari pendapatan.

"Jika Anda membelanjakan lebih dari 15-20 persen gaji bersih, ditambah pembayaran utang atau tagihan kartu kredit, Anda berada pada posisi berbahaya. Teliti kembali pengeluaran Anda, terutama pengeluaran variabel untuk mengontrol pengeluaran. Jangan sampai gaji Rp 5 juta tetapi pengeluaran per bulan Rp 7 juta," tutur Hotman. "Bila perlu, catat pengeluaran bulanan," katanya menambahkan.

3. Kurangi pengeluaran!

Banyak orang yang membelanjakan uang untuk barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, walaupun mungkin diinginkannya. Karenanya, Anda perlu memonitor pengeluaran dengan membawa selalu catatan kecil. Catatan ini akan membantu Anda mengenali kebiasaan belanja setiap bulannya. Tentu saja Anda perlu disiplin mencatat semua pengeluaran harian dan bulanan dalam buku catatan ini.

Meski bottom line Anda positif, kebiasaan mengurangi pengeluaran tetap perlu diterapkan. Mulailah dengan membawa makanan dari rumah dan mengurangi makan di restoran. Kurangi juga kebiasaan minum kopi dan makan di restoran cepat saji. "Anda bisa menghemat Rp 5 juta per tahun jika kebiasaan minum kopi sebesar Rp 20.000 tiap hari bisa dikurangi," saran Hotman. Berhenti dari kebiasaan merokok satu bungkus per hari juga bisa menghemat Rp 1 juta per bulan.

4. Buatlah formula anggaran

Tahapan terakhir dalam menyusun anggaran adalah membuat formulasi. Tentukan komposisi presentasi anggaran dari gaji bulanan Anda. Seperti berapa persen yang Anda anggarkan untuk tabungan, biaya sewa atau cicilan rumah, makanan, transportasi, pakaian, jalan-jalan, dan lainnya.

Anda bisa mengadopsi komposisi anggaran seperti dijelaskan perencana keuangan Ligwina Poerwo-Hananto pada kesempatan berbeda. Ligwina menyarankan, komposisi cicilan utang maksimal 30 persen; komposisi premi asuransi, kebutuhan rumah tangga, transportasi, kebutuhan anak dan keluarga, serta kesehatan adalah 20-40 persen dari penghasilan; komposisi kebutuhan pribadi seperti belanja pakaian, perawatan salon, atau membeli gadget adalah 20 persen. Sisanya, sekitar 10-30 persen, adalah untuk ditabung sebagai dana darurat.